Rabu, 29 April 2026

Sobat Anak-Anak - Bapak Sastra Melayu Tionghoa Nusantara Lie Kim Hok


Ukuran : 14,5 x 20,5 cm

Isi : 80 halaman kertas Bookpaper 72 gram

Cetakan I, 2026

Genre: Fiksi

QRCBN: 62-1677-0931-589

Cetakan:  Hitam Putih

Harga 45.000


Pengantar: Impian Nopitasari

Pada satu pagi si Aris itu minta duit sama ibunya dan bawa pergi ia punya kitab dan sabak. Ibunya kira ia pergi sekolah, tapi ia pergi ke mana? Ia pergi main layangan! O, layangannya tinggi sekali! Enak betul! Tapi coba dengar, apa sudah jadi. Ia punya layangan nyangkut di pohon jeruk dekat rumah Demang. Si Aris lantas lari ke situ, ia tolak pintu pagar pekarangan, dan terus masuk. Ia mau engget layangannya. Tapi baru ia masuk, lantas saja datang satu anjing udak dia dan gigit pahanya. Tolong tolong! Si Aris itu teriak. Satu bujang lantas datang dan – dapat lihat apa? Si Aris sudah mandi darah. Demang juga datang.

“Ah!” Demang berkata: “Mengapa kau berani masuk? Mengapa tidak memanggil dulu dan tunggu sampai orang datang? Apa tidak kau lihat, itu di pintu ada papan ditulisi surat, bunyinya: di sini ada anjing galak!”

“Saya tak tahu surat,” sahut si Aris sembari menangis. 

“He!” kata Demang: “Kau sekolah begitu lama, masih tak tahu surat?”


Lie Kim Hok lahir di Buitenzorg (sekarang  Bogor), Jawa Barat,  1 November 1853. Ia merupakan penulis produktif di masanya dan digelari sebagai Bapak Sastra Melayu Tionghoa Nusantara. Sobat Anak-Anak adalah kumpulan cerita anak yang disebut-sebut sebagai karya sastra populer  pertama di Hindia Belanda. 

Selasa, 28 April 2026

Kehidupan Perempuan di Desa - Marie Ovink-Soer


Penerjemah Titik Andarwati

Ukuran : 13 x 20 cm

Isi : 132 halaman kertas Bookpaper 57 gram

Cetakan I, 2026

Genre: Fiksi

QRCBN: 62-1677-3366-623

Cetakan:  Hitam Putih

Harga 65.000

Untuk pertama kalinya sejak kedatanganku di Hindia Belanda, aku akan tinggal sendirian di rumah. Selama ini aku selalu dapat menemani suamiku dalam perjalanan dinasnya; namun kali ini ia harus menempuh dua hari perjalanan menunggang kuda ke pegunungan, jadi aku tak mungkin ikut.

Kami belum lama tinggal di tempat kecil ini, jauh di pedalaman, dan aku belum mengenal satupun keluarga yang cukup akrab yang bisa kukunjungi atau yang bisa kuharapkan untuk datang menjengukku. Namun, di pedalaman, syarat utama untuk bahagia adalah menjadikan rumahmu sebagai duniamu sendiri, sebab di luar lingkaran kecil itu tak banyak hiburan yang bisa diharapkan. Maka orang pun segera terdorong untuk menciptakan kesenangan kecil di sekitarnya, agar hidup lebih manis dan tak monoton.

Selain hewan peliharaan, kami memelihara banyak binatang di halaman: sapi, kuda, bebek yang ribut, ayam, merpati berbagai jenis, kelinci, marmut, dan lain-lain. Ada kesenangan tersendiri bagiku mengamati tingkah mereka, membiasakan mereka dengan kehadiranku, menjinakkan mereka sedikit demi sedikit ....


Marie Ovink-Soer (atau M. C. E. Ovink-Soer, 1860-1937) adalah penulis yang juga menjadi istri Asisten Residen Jepara, Pieter Sijthoff. Namanya dikenal di Indonesia karena hubungannya dengan R.A. Kartini dan dua adiknya. Ketiga saudara itu sampai menyebutnya Moedertje, yang artinya ibu sayang.