Kamis, 13 Maret 2014
Senin, 09 Desember 2013
The Bear Came Over the Mountain - Alice Munro
Penulis :Alice Munro
Ukuran : 13.5 x 20.5 cm
Isi : 68 halaman kertas book paper finland 57,5 gr
Rp.15.000
Cetakan I, 2014
Genre :short story
Grant bertanya apakah dia telah meminum pil tidur.
“Aku tak ingat,” katanya. Lalu dia minta maaf karena terdengar begitu ceroboh. “Aku yakin tak meminum pil apapun. Mungkin aku seharusnya meminum sesuatu. Mungkin vitamin.”
Vitamin tak membantu. Dia sering berdiri di ambang pintu, bingung ke mana dia akan pergi. Dia lupa menyalakan api ketika memasak sayur atau lupa menaruh air di mesin pembuat kopi. Dia menanyakan kapan mereka pindah ke rumah ini.
“Apakah tahun lalu atau tahun sebelumnya?”
“Dua belas tahun yang lalu,” kata Grant.
Penulis yang merevolusi arsitektur cerita pendek.
- The New York Times
Alice Munro adalah salah satu penulis cerita pendek terbaik masa kini.
- Peter Englund, sekretaris lembaga Akademi Swedia
Kamis, 07 November 2013
Demi Esme dengan Cinta dan Kesengsaraan - JD Salinger
Penulis : J.D. Salinger
Ukuran : 13.5 x 20.5 cm
Isi : 68 halaman kertas book paper finland 57,5 gr
Rp.15.000
Cetakan I, 2014
Genre :short story
- Hari Yang Sempurna Bagi Bananafish
“Saya sangat tersanjung jika Anda menulis sebuah kisah secara khusus untuk saya suatu hari nanti. Saya gemar membaca.”
Aku katakan aku tentu akan melakukannya, jika aku bisa. Aku mengaku tak terlalu produktif dalam menulis.
“Saya lebih suka kisah tentang kesengsaraan.”
“Tentang apa?”
“Kesengsaraan. Saya sangat tertarik dengan kesengsaraan.”
- Demi Esme, Dengan Cinta dan Kesengsaraan
Jerome David Salinger adalah pengarang besar Amerika yang tak suka publisitas dan lebih memilih hidup menyendiri dari hiruk pikuk dunia sastra. Novelnya yang paling terkenal adalah 'The Catcher in the Rye' yang berkisah tentang kegalauan seorang remaja bernama Holden Caufield yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya. Pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, mengaku terpengaruh novel ini hingga menembak tokoh idolanya itu.
Salinger selalu berhasil membuat pembaca bertanya-tanya sepanjang cerita yang dikisahkannya, bahkan setelah selesai membacanya. Ia sadar bahwa anak kecil tak selalu kekanak-kanakan dan orang dewasa tak selalu matang. Kita dapat menemukan hal ini dalam dua kisah yang ada di buku ini. Salah satunya adalah 'Hari Yang Sempurna Bagi Bananafish', cerpen yang menjadi salah satu masterpiece Salinger yang terus dibicarakan dan diperdebatkan maknanya hingga kini.
Karya-karya Salinger adalah karya yang paling berpengaruh dalam sastra Inggris sejak Hemingway.
- Harold Brodkey, sastrawan pemenang O Henry Award
Salinger orisinil dan ini membuatnya menakjubkan... diberkati dengan imajinasi, keharuan, dan gaya bercerita.
- John K. Hutchens, New York Herald Tribune
(cetak terbatas - pembelian hanya secara online)
Dua Saudara - Jhumpa Lahiri
Penulis : Jhumpa Lahiri
Ukuran : 13.5 x 20.5 cm
Isi : 68 halaman kertas book paper finland 57,5 gr
Rp.15.000
Cetakan I, 2014
Genre : short story
Sejak kecil Subhash selalu berhati-hati. Ibunya tak pernah harus berlari mengejarnya. Dia menjadi sahabat sang ibu, melihatnya memasak atau menjahit.
Berbeda dengan Subhash, Udayan sejak kecil sering menghilang, bahkan di dalam rumah berkamar dua tempat mereka tinggal. Dia bersembunyi di bawah tempat tidur, di belakang pintu, bahkan di dalam peti kayu yang berisi selimut musim dingin. Dia juga menyelinap ke halaman belakang dan memanjat pohon. Ini membuat ibu mereka terpaksa menghentikan apa yang sedang dikerjakannya ketika Udayan tak menyahut saat namanya dipanggil.
Ketika mereka sudah agak besar dan diijinkan bermain jauh dari rumah, keduanya diingatkan untuk selalu bersama-sama. Berdua mereka menjelajahi jalan pedesaan yang berliku-liku, melintasi lembah menuju lapangan bermain, tempat mereka sesekali bertemu dengan anak-anak lainnya. Mereka pergi ke masjid di pojokan, duduk di lantai marmernya yang dingin, mendengar pertandingan sepak bola dari radio orang.
Namun orang-orang sering keliru membedakan keduanya. Karena tubuh mereka hampir mirip hingga bisa memakai baju yang sama. Warna kulit keduanya pun sama, campuran warna tembaga terang turunan dari orang tua mereka. Begitu pula dengan bentuk jari, roman wajah yang tajam, dan rambut keriting berombak.
Namun kelak nasib keduanya ternyata begitu bertolak belakang!
Jhumpa Lahiri adalah seorang penulis cerita pendek terbaik yang pernah saya baca.
- Amy Tan, penulis The Joy Luck Club
Lahiri adalah seorang penulis dengan pandangan yang tajam dan kuat.
- Frederick Busch, penulis Amerika yang dijuluki a Master of the Short Story
(cetak terbatas - pembelian hanya secara online)
Rabu, 10 Oktober 2012
[un]affair, [un]forgetable, [un]predictable, review Ary Yulistiana (penulis 100th Dragonfly)
Sebuah
catatan kecil dari novel [un]affair
karya Yudhi Herwibowo
Ihwal terbitnya novel ini
saya ketahui dari kolom berita sebuah surat kabar lokal, yang memuat profil
penulisnya. Dalam kesempatan tersebut, sang penulis (siapa lagi kalau bukan Yudhi Herwibowo)
mengatakan akan segera meluncurkan novel berikutnya yang bergenre cinta. Diakuinya
novel tersebut merupakan novel pertamanya yang bergenre cinta, ehm. Langsung terbayang di benak saya
deretan karya penulis yang sungguh baik hatinya itu, mulai dari cerita humor,
roman sejarah, sampai kisah-kisah inspiratif.
Dan pada sebuah akhir
pekan, saya mencari buku tersebut di Gramedia. Karena malas mencari secara
langsung karena banyaknya display di berbagai rak dan meja, dan sedang
terburu-buru, saya langsung menuju ke komputer yang ada di tengah ruangan untuk
melacak keberadaan buku tersebut. Perlu beberapa kali ketik juga ketika
pencarian. Karena
bila hanya diketik unaffair demikian,
maka tidak bisa muncul judul bukunya.
Akhirnya
ketemu juga novel tersebut. Ilustrasi
covernya sederhana dan bersahaja (itu menurut saya). Sebuah sudut ruangan
berlantai papan, dibatasi tembok dengan cat yang mengelupas di beberapa bagian,
terkesan dingin, sunyi, dan lapuk. (Nantinya barulah saya memahaminya; Rasanya
cukuplah desain cover novel tersebut semuram suasana hati saya selepas menyelesaikan
kisah sendunya.)
Namun pada saat yang bersamaan tersaji antitesis berupa sofa modern minimalis
yang bagus dan bersih, dan... sepasang stiletto
merah mengilat.... Sungguh memunculkan banyak dugaan.
Daftar isi yang tersaji,
hm, juga tampil beda. Yang biasanya identik dengan kalimat pendek, di novel
tersebut daftar isi berupa kalimat-kalimat majemuk yang dinukil dari tiap
bagian. Soal jalan ceritanya, saya hanya akan menuliskan
sedikit saja, mengingat sudah banyak review sebelumnya atas buku ini.
Terkisah lelaki sederhana
bernama Bajja (yang langsung mengingatkan
saya pada Wajja, salah satu tokoh di
novel Menuju Rumah Cinta-Mu) seorang desainer grafis yang terjebak dengan
perasaannya sendiri untuk menjalin kisah dengan gadis bernama Arra. Bermula dari perjumpaan
tidak sengaja di
dekat palang kereta, berlanjut saat Arra memesan cetak digital buku di kantornya, lalu
di kafe V dan pertemuan-pertemuan sendu di rumah kontrakannya, kisah Bajja dan
Arra terangkai dengan tidak sederhana. Antara kesedihan, kegamangan dan
kerinduan, namun terbungkus dengan romansa, perhatian yang manis, desir yang
menyeruak, dan rinai hujan yang kerap menjadi sutradara atas kebersamaan
mereka.
Bajja, lelaki yang
membiarkan dirinya untuk menuruti apa yang terjadi. Membiarkan pintu ruang
hatinya terbuka dan membiarkan banyak hal begitu saja memporak-porandakan
isinya.
Termasuk pada saat Canta, kisah cintanya yang lama, masuk
kembali begitu saja ke ruang hatinya. Sesungguhnya Bajja tak pernah benar-benar
sanggup menutup pintu hatinya. Hingga Arra dan Canta berada pada sudut yang tak
pernah diduganya.
Novel yang teramat sendu,
teramat menyedihkan. Kepiawaian penulis menyajikan plot dan setting sudah tidak
diragukan lagi
karena begitu banyaknya karya yang telah ditulis. Membaca halaman demi halaman,
saya seakan berada di tempat-tempat dimana mereka berada. Di dekat palang
kereta, di kesibukan kantor Vanila Ice Design, menonton Everton di V,
kedinginan berhujan-hujan, juga di rumah kontrakan berarsitektur lawas yang
berdinding tinggi dan nyaman. Namun di akhir cerita, saya masih juga bertanya-tanya,
luka apa sebenarnya leher Arra ketika itu, dan, lelaki bertato kuda berlari di
lengan kanan; siapa dia dan bagaimana?
Dengan kepiawaian sang
penulis, apalagi yang bisa ditawar dari novel ini? Rasanya tidak ada. Kalaupun
ada, barangkali hanya hal yang tidak terlalu penting dan subyektif dari sudut
pandang saya (haha, tentu saja). Subyektivitas saya antara lain: Ketika membaca
novel ini, dalam beberapa bagian saya sedikit terganggu dengan gurauan yang
coba dihadirkan oleh penulis. Terutama pada dialog antara Bajja dan Wara, teman sekantornya. Rasanya malah
kurang pas untuk dibaca, misalnya pada dialog “cinta akan membawamu kembali” yang kemudian ditambahkan
kalimat “hutang akan membawamu kembali”,
atau pada bagian “Tuyul dan Mbak Yul”
Entah kenapa dialog antara Bajja dan Wara tersebut terasa mengganggu dalam beberapa bagian. Novel ini
mungkin disajikan secara simpel dan santai, namun bila gurauan-gurauan tersebut
dihilangkan, rasanya tetap akan bisa tercipta suasana cair dan akrab antara
Bajja dan Wara.
Kemudian, karakter tokoh
yang ada seharusnya bisa lebih diperkuat lagi. Nama Bajja, Wara, Canta,
Arra, rasanya sebanding dengan nama Pak Hangga, Mbak Fati, lalu Vae. Penguatan karakter mungkin dapat dilakukan dengan pemberian
makna dan pemberian nama panjang untuk tokoh utama. Sementara nama-nama tokoh
dalam novel terkesan asing dan kurang dimaknai –kecuali Bajja yang dijelaskan
karena keinginan dan harapan orang tua Bajja-. Bagi saya, karakter tokoh sangat
bertalian dengan nama yang disandang.
Hal lain yang sangat sepele
dan tidak mengurangi keindahan cerita adalah penulisan beberapa kata ulang.
Misalnya penulisan kata “....menemukan e-book-e
book menarik....” (hal.16) mungkin
bisa disederhanakan dengan “....menemukan berbagai e-book menarik...”, lalu pada dialog halaman
61, “ ...apakah aku masih menyimpan
mie-mie itu?”, mungkin lebih enak dibaca “...apakah aku masih menyimpan mie?”. Juga pada penggunaan kata
pada hal. 162 mengenakan jubah dokternya
mungkin lebih pas mengenakan jas
praktiknya. Dan beberapa penulisan kata yang sungguh teramat sepele dan
tidak mengganggu jalannya cerita.
Apapun, novel ini berhasil
mengaduk emosi pembacanya, dan memaksa menuntaskan membaca hingga akhir cerita.
Entah dengan meneteskan air mata, ataupun menarik nafas dalam-dalam untuk
menenangkan hati atas sendunya cerita... Bravo...!
[un]affair, review Dion Yulianto di Baca Biar Beken!
Judul : (Un)affair
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Editor : Anton WP
Cetakan : Pertama, 2012, 172 halaman
Penerbit : BukuKatta
Apakah itu sebuah affair ketika dalam cerita indah itu kedua insan sama-sama mengetahui posisinya masing-masing? Layakkah cinta yang begitu lembut antar dua insan yang berbeda—yang tidak menuntut apa-apa selain sebuah sofa dan rumah kontrakan nan teduh sebagai tempat berteduh dan meluapkan cerita—boleh didakwa sebagai perselingkuhan? Jikalau memang itu harus dianggap demikian, maka alangkah benar jika cerita dari kota Sendu itu diberi judul “perselingkuhan yang tidak adil” unfair affair --> (Un)affair
Unaffair adalah kisah tentang Bajja dan Arra, dan Wara, dan Vae, dan akhirnya, Canta. Kelima tokoh dari Kota Sendu yang banyak turun hujan inilah yang mewarnai satu lagi kisah tentang cinta tak kesampaian yang berawal dari sebuah sofa. Adalah Bajja, seorang karyawan penyuka hujan yang tiba-tiba kedatangan sosok wanita asing bernama Arra. Ketika itu, Arra hendak mencetak buku untuk kekasihnya di kantor Bajja. Keunikan dan kemisteriusannya membuat hati Bajja yang dulunya sekeras baja semenjak perginya Canta menjadi luluh, perlahan demi perlahan. Sebuah sofa usang di rumah kontrakan Bajja menjadi saksi tumbuhnya jalinan bukan-cinta-tapi-lebih-dari-sekadar-sahabat antara keduanya. Di mana hubungan unik antara keduanya itu digambarkan dengan indahnya melalui syair-syair narasi dalam novel kecil ini.
kita bagai kupu-kupu …
aku kupu-kupu dengan sepasang sayap yang rapuh
berharap engkau terus mengiringiku terbang
menjaga sewaktu-waktu aku jatuh (hlm 85)
Lalu, keputusan itu pun datanglah. Si wanita pecinta sofa itu akhirnya pergi, sebagaimana Canta pergi meninggalkan Bajja. Dan kegalauan pun mulai melanda, yang untungnya tak lama. Sebuah kembang dari masa lalu Bajja kembali mekar menghampiri. Adalah Canta, yang memutuskan untuk tinggal di kota Sendu, demi menikmati ketenangan dan hujannya--yang senantiasa turun. Dan, Bajja pun mendapatkan semangat dan pola hidupnya kembali, hanya untuk kembali digoyahkan oleh kedatangan kembali Arra ke Kota Sendu. Demikianlah cerita itu terus bergulir. Lalu, apakah Bajja akan kembali kepada Arra, ataukah tetap mempertahankan Canta? Biarkan Unaffair yang akan menjawabnya.
Membaca Unaffair seperti mengingatkan saya dengan pembacaan cerpen. Entahlah, tapi bagi saya aroma sebuah cerpen terasa begitu kuat dari novel yang nyatanya ada beberapa bab ini. Mungkin, saya terlalu membandingkannya dengan karya-karya Mas Yudhi yang terdahulu, terutama yang kumpulan cerpen. Sungguh, rasa sastra itu begitu kental menguar dari lembar-lembar Unaffair, menjadikannya semacam affair yang indah, yang tidak tabu, yang sangat nyaman.
Unaffair menggunakan bahasa baku yang cenderung formal. Tidak banyak kata gaul apalagi alay yang bersliweran dalam novel kecil ini, bahkan pada candaan si Wara yang agak gokil itu. Namun, keteraturan dan kebakuan itu bukannya membuat kaku tapi justru memperindah novel ini, seolah-olah “mengklasikkannya”. Pembaca akan tetap mampu menikmati ceritanya terlepas ari penggunaan kata-kata lengkap seperti “engkau” dan “mengudak-udaknya”.
Hal lain adalah banyaknya bertebaran kalimat-kalimat reflektif yang membuktikan bahwa si penulis memang seorang pengamat kehidupan yang piawai. Di sela-sela romansa dunia Bajja, terselip pandangan penulis tentang ironisnya promo penjual nisan (“beli satu bonus satu”), atau tentang universalitas musik,
“musik mungkin universal, tapi kisah di balik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejaidan seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.” (halaman 107)
atau tentang pengaruh antara seseorang terhadap lingkungannya
“Aku bisa memaklumi. Kadang sesuatuyang ada di sekitar kita, akan kita bentuk seperti diri kita” (halaman 144) *membacanya sambil melirik timbunan di pojokan #eh
Ciri lain dari Mas Yudhi yang banyak bertebaran di buku ini adalah penggunaan kalimat-kalimat yang pendek dan seolah terpotong, seperti melambangkan jeda atau ada sesuatu efek yang hendak ditekankan. Dan, Mas Yudhi mampu menerapkan kata-kata berefek ini dengan begitu bagus sehingga bahkan seorang editor seperti saya (hasyah) abaii—yang sebenarnya sudah lazim dalam fiksi.
Mari kita akhiri pembacaan resensi ini dengan satu kutipan galau tapi indah dari salah satu halaman novel ini.
aku bagai mawar merah yang luka
namun tetap merah menyala
karena warna itu sudah kupilih
untukmu, seberapa pun aku luka (hlm 38)
http://dionyulianto.blogspot.com/2012/09/unaffair.html
Langganan:
Postingan (Atom)





